Deja Vu Itu, Kehidupan Lain Masa Lalu Atau Gangguan Otak?

By | Agustus 19, 2016

Pertama kali diperkenalkan oleh seorang peneliti bidang psikolog, ahli filosofi, dan penulis berkebangsaan Perancis, Emile Boirac (1851-1917). Deja vu secara umum diartikan sebagai perasaan seperti pernah mengalami kejadian serupa di masa lalu, namun tidak dapat memastikan waktu dengan tepat kapan kejadian tersebut pernah terjadi. Dengan kata lain, deja vu adalah suatu pengalaman yang membuat seseorang merasa yakin telah mengalami hal yang sama seperti pengalaman baru tersebut, sebelumnya. Pada umumnya, seseorang setidaknya mengalami deja vu sekali seumur hidup.

Sebagian peneliti beranggapan bahwa seseorang yang mengalami deja vu sebenarnya sudah pernah melihat suatu peristiwa namun hal itu hanya ditangkap di alam bawah sadar. Hal yang sudah terekam itu disampaikan ke otak dan disimpan dalam memori. Ketika seseorang kembali melihat hal yang serupa, otak mengangkat kembali memori tersebut sehingga seseorang akan merasa pernah mengalami hal yang sama persis 2 kali.

Sebagian peneliti lain mempunyai anggapan berbeda. Apa saja anggapan tentang deja vu dan apa sebenarnya deja vu itu? Apakah benar deja vu merupakan sisi kehidupan lain seseorang di masa lalu, ataukah hanya gangguan otak yang terjadi secara singkat? Simak ulasan berikut ini.

Apa Itu Deja Vu

apa itu deja vu Deja vu itu, Kehidupan Lain Masa Lalu Atau Gangguan Otak?

Definisi Deja Vu

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, deja vu merupakan perasaan yang merujuk pada kesamaan peristiwa dan pengalaman pada moment lihat saat itu dengan moment lihat beberapa waktu sebelumnya. Contoh yang paling sering dibagikan orang-orang yang mengalami deja vu adalah melakukan pekerjaan seperti sudah melakukannya berulang-ulang. Contoh lainnya adalah seperti sudah pernah mengunjungi suatu tempat, padahal tempat tersebut belum pernah ada sebelumnya.

Pendapat Para Peneliti

Otak manusia memiliki struktur yang kompleks, rumit, namun sangat menarik. Tanpa kita sadari, otak dapat membuat sebuah eksperimen. Seperti membuat suatu gambaran atau situasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Bisa dengan menggabungkan beberapa peristiwa yang terekam, dan membuang sebagian memori yang lain. Perpaduan ini menghasilkan sebuah gambar baru, yang bisa jadi sama persis dengan peristiwa yang baru terjadi. Inilah kemampuan otak!

Psikolog berkebangsaan Inggris, Edward B. Titchener (1867-1927) mengatakan hal serupa diatas. “Deja vu muncul ketika seseorang sudah memiliki pandangan sekilas dari sebuah peristiwa atau objek, sebelum otak membangun dengan sempurna kesadaran penuh  orang tersebut.”

Penyebab deja vu diteliti dan semakin dikembangkan. Penelitian terakhir menyebutkan bahwa deja vu merupakan kegagalan fungsi otak dalam mengalirkan listrik antar syaraf. Adapun faktor pemicunya adalah konsumsi LSD, amantadine, dan phenylpropanolamine. Obat-obatan ini terbukti memicu reaksi hyperdopaminergic penyebab deja  vu.

Sekelompok peneliti dari Inggris, Kanada dan Perancis melakukan penelitian terhadap seorang pria dengan deja vu akut – yang  mengalami deja vu selama 8 tahun dan merasa terjebak dalam lingkaran waktu menakutkan – dan mempelajari apa penyebabnya. Mereka menarik kesimpulan bahwa kegelisahan akibat konsumsi obat-obatan dapat memicu timbulnya deja vu. Dr. Chris Moulin, neuropsikolog kognitif dari University Of Bourgone menambahkan bahwa riwayat kecemasan atau depresi pada pria tersebut diakibatkan pengkonsumsian  LSD.

Tinjauan Menurut Syari’at

Dalam buku Misteri Potensi Gaib Manusia karya Prof. Dr. Ahmad Syauqi Ibrahim, beliau menjelaskan bahwa deja vu memiliki keterkaitan dengan aktifitas ruh manusia. Ketika manusia tidur, ruh akan keluar dari tubuh lalu pergi menuju alam ruh. Alam ruh ini bisa berupa masa lalu dan masa depan, namun tetap terikat dengan tubuh sampai ajal menjemput. Aktifitas inilah yang menjadi dasar Ahmad Syauqi Ibrahim menyebutkan penyebab deja vu.

Ruh yang berjalan di dimensi berbeda tersebut juga menangkap gambaran, dan disimpan dengan baik di memori otak. Sehingga ketika peristiwa yang dilihat ruh pada ruang masa depan terjadi, secara otomatis otak menampilkan peristiwa yang sama, sehingga seseorang merasakan deja vu. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *